Selasa, 05 Juni 2018

Penduduk, Masyarakat, dan Kebudayaan

Penduduk, Masyarakat, dan Kebudayaan


Pengertian Pertumbuhan Penduduk
            Pertumbuhan Penduduk adalah suatu perubahan populasi sewaktu-waktu, dan bisa dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi memakai “per waktu unit” untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering dipakai secara informal untuk sebutan demografia s nilai pertumbuhan penduduk, dan dipakai untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia

Pertumbuhan dan Perkembangan Kebudayaan di Indonesia

Zaman Batu 
Tua Alat-alat batu pada zaman batu tua, baik bentuk ataupun permukaan peralatan masih kasar, misalnya kapak genggam. Kapak genggam semacam itu kita kenal dari wilayah Eropa, Afrika, Asia Tengah, sampai Punsjab (India), tapi kapak genggam semacam ini tidak kita temukan di daerah Asia Tenggara. Berdasarkan penelitian para ahli prehistori, bangsa-bangsa Proto-Austronesia pembawa kebudayaan Neolithikum berupa kapak batu besar ataupun kecil bersegi-segi berasal dari Cina Selatan, menyebar ke arah selatan, ke hilir sungai-sungai besar sampai ke semenanjung Malaka Lalu menyebar ke Sumatera, Jawa. Kalimantan Barat, Nusa Tenggara, sampai ke Flores, dan Sulawesi, dan berlanjut ke Filipina.

Kapak-kapak tersebut diasah sampai mengkilap dan diikat pada tangkai kayu dengan menggunakan rotan. Sebagai tambahan seiring persebaran kapak batu tersebut tersebar pula Bahasa Proto-Austronesia yang merupakan induk dari bahasa dari bangsa-bangsa di sekitar Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik. Karena perkembangannya muncul bahasa melayu yang nantinya di negara Indonesia berkembang menjadi bahasa Indonesia

Zaman Batu Muda 
Pada zaman batu muda memiliki ciri-ciri seperti : mulai menetap dan membuat rumah, membentuk kelompok masyarakat desa, bertani, dan berternak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Manusia pada zaman batu muda telah mengenal dan memiliki kepandaian untuk mencairkan/melebur logam dari biji besi dan menuangkan ke dalam cetakan dan mendinginkannya. Oleh karena itulah mereka mampu membuat senjata untuk mempertahankan diri dan untuk berburu serta membuat alat-alat lain yang mereka perlukan. Bangsa-bangsa Proto-austronesia yang masuk dari Semenanjung Indo-China ke Indonesia itu membawa kebudayaan Dongson, dan menyebar di Indonesia. Materi dari kebudayaan Dongson berupa senjata-senjata tajam dan kapak berbentuk sepatu yang terbuat dari bahan perunggu. Hal yang patut dicatat tentang permulaan zaman logam ini adalah kenyataan yang jelas bahwa Indonesia sebelum memasuki zaman Hindu telah mengenal kebudayaan yang tinggi derajatnya dan penting bagi perkembangan kebudayaan Indonesia selanjutnya.
Kebudayaan Hindu, Budha dan Islam - Kebudayaan Hindu & Budha
Pada abad ke-3 dan ke-4 agama hindu mulai masuk ke Indonesia di Pulau Jawa. Perpaduan atau akulturasi antara kebudayaan setempat dengan kebudayaan. Sekitar abad ke 5 ajaran Budha masuk ke indonesia, khususnya ke Pulau Jawa. Agama Budha dapat dikatakan berpandangan lebih maju dibandingkan Hinduisme, sebab budhisme tidak menghendaki adanya kasta-kasta dalam masyarakat. Walaupun demikian, kedua agama itu di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa tumbuh dan berdampingan secara damai. Baik penganut hinduisme maupun budhisme masng-masing menghasilkan karya-karya budaya yang bernilai tinggi dalam seni bangunan, arsitektur, seni pahat, seni ukir, maupun seni sastra, seperti tercermin dalam bangunan, relief yang diabadikan dalam candi-candi di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur diantaranya yaitu Borobudur, Mendut, Prambanan, Kalasan, Badut, Kidal, Jago, Singosari, dan lain-lain. Beberapa pendapat/hipotesa yaitu antara lain :

Hipotesis Ksatria, diutarakan oleh Prof. Dr. Ir. J. L. Moens berpendapat bahwa yang membawa agama Hindu ke Indonesia adalah kaum ksatria atau golongan prajurit, karena adanya kekacauan politik/peperangan di India abad 4 - 5 M, maka prajurit yang kalah perang terdesak dan menyingkir ke Indonesia, bahkan diduga mendirikan kerajaan di Indonesiaa

Hipotesis Waisya, diutarakan oleh Dr. N. J. Krom, berpendapat bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kaum pedagang yang datang untuk berdagang ke Indonesia, bahkan diduga ada yang menetap karena menikah dengan orang Indonesia. Hipotesis Brahmana, diutarakan oleh J. C. Vanleur berpendapat bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kaum Brahmana karena hanyalah kaum Brahmana yang berhak mempelajari dan mengerti isi kitab suci Weda. Kedatangan Kaum Brahmana tersebut diduga karena undangan Penguasa/Kepala Suku di Indonesia atau sengaja datang untuk menyebarkan agama Hindu ke Indonesia.


Kebudayaan Islam
Abad ke 15 dan 16 agama islam telah dikembangkan di Indonesia, oleh para pemukapemuka Islam yang disebut Walisongo. Titik penyebaran agama Islam pada abad itu terletak di Pulau Jawa. Sebenarnya agama Islam masuk ke Indonesia, khususnya di Pulau Jawa sebelum abad ke 11 sudah ada wanita islam yang meninggal dan dimakamkan di Kota Gresik. Masuknya agama Islam ke Indonesia berlangsung secara damai. Hal ini di karena masuknya Islam ke Indonesia tidak secara paksa. Melainkan dengan cara baik-baik, di samping itu disebabkan sikap toleransi yang dimiliki bangsa kita.
Abad ke 15 ketika kejayaan maritim Majapahit mulai surut, berkembanglah negaranegara pantai yang dapat merongrong kekuasaan dan kewibawaan Majapahit yang berpusat pemerintahan di pedalaman. Negara-negara yang dimaksud adalah Negara Malaka di Semenanjung Malaka, Negara Aceh di ujung Sumatera, Negara Banten di Jawa Barat, Negara Demak di Pesisir Utara Jawa Tengah, Negara Goa di Sulawesi Selatan . Dalam proses perkembangan negara-negara tersebut yang dikendalikan oleh pedagang. Pedagang kaya dan golongan bangsawan kota- kota pelabuhan, nampaknya telah terpengaruh dan menganut agama Islam. Daerah-daerah yang belum tepengaruh oleh kebudayaan Hindu, agama Islam mempunyai pengaruh yang mendalam dalam kehidupan penduduk. Di daerah yang bersangkutan. Misalnya Aceh, Banten, Sulawesi Selatan, Sumatera Timur, Sumatera Barat, dan Pesisir Kalimantan.
Agama Islam berkembang pesat di Indonesia dan menjadi agama yang mendapat penganut sebagian terbesar penduduk Indonesia. Kebudayaan Islam memberi saham yang besar bagi perkembangan kebudayaan dan kepribadian Bangsa Indonesia.

Jumat, 27 Oktober 2017

Manusia dan Keadilan

Manusia dan Keadilan

A.   Pengertian Keadilan

Keadilan dalam bahasa sebenarnya adalah memberikan sesuatu pada tempatnya.
adil bukan berarti sama rata, melainkan memberikan sesuatu pada orang yang tepat sesuai dengan aturan yang berlaku.
Ada beberapa macam pengertian yang diungkapkan oleh para ahli ilmu kemanusiaan:
a.       Aristoteles
Keadilan merupakan tindakan yang memberikan sesuatu kepada orang yang memang menjadi haknya.
b.      Frans Magnis Suseno
Keadilan adalah  keadaan dimana sesama manusia saling menghargai hak dan kewajiban masing-masing yang membuat keadaan menjadi harmonis.
c.       Thomas Hubbes
Keadilan adalah sebuah keadaan dimana ada suatu perjanjian yang kemudian isi perjanjian tersebut dijalankan sesuai dengan aturan yang berlaku tanpa berat sebelah.
d.      Plato
Keadilan adalah mematuhi semua hukum dan perundangan yang berlaku.

B.   Keadilan Sosial

Keadilan sosial adalah sebuah konsep yang membuat para filsuf terkagum-kagum sejak Plato membantah filsuf muda, Thrasymachus, karena ia menyatakan bahwa keadilan adalah apa pun yang ditentukan oleh si terkuat. Dalam Republik, Plato meresmikan alasan bahwa sebuah negara ideal akan bersandar pada empat sifat baik: kebijakan, keberanian, pantangan (atau keprihatinan), dan keadilan.
Penambahan kata sosial adalah untuk membedakan keadilan sosial dengan konsep keadilan dalam hukum.
Keadilan sosial juga merupakan salah satu butir dalam Pancasila.

“Keadilan sosial ialah suatu masyarakat atau sifat suatu masyarakat adil dan makmur,
berbahagia buat semua orang, tidak ada penghinaan, tidak ada penindasan, tidak ada penindasan, tidak ada penghisapan. - exploitation de l’homme par l’homme.”

C.   Berbagai Macam Keadilan

Macam-Macam Keadilan.
a. Keadilan menurut Aristoteles
a.       Keadilan Komunikatif adalah sebuah sikap yang didasarkan pada ketulusan dimana kita tidak memandang siapa yang telah berjasa pada kita.
b.      Keadilan Distributif adalah sikap keadilan dimana kita mempertimbangkan mengenani jasa yang diberikan kepada kita atau masyarakat umum.
c.       Keadilan Konvensional ialah suatu sikap keadilan dimana kita mau mematuhi aturan UU yang berlaku.
d.      Keadilan Perbaikan ialah suatu keadilan untuk orang yang telah mencemarkan nama baik.
e.       Keadilan Kodrat Alam adalah keadilan yang sesuai dengan kodrat alam yang berlaku.

b. Keadilan menurut Plato
a.       Keadilan Moral dimana sebuah keadilan dapat menyeimbangkan antara kewajiban dan hak manusia.
b.      Keadilan Prosedural adalah keadilan yang didasarkan pada perbuatan manusia sesuai dengan aturan atau tata cara yang berlaku.

D.   Kejujuran

Jujur atau kejujuran mengacu pada aspek karakter, moral dan berkonotasi atribut positif dan berbudi luhur seperti integritas, kejujuran, dan keterusterangan, termasuk keterusterangan pada perilaku, dan beriringan dengan tidak adanya kebohongan, penipuan, perselingkuhan, dll Selain itu, kejujuran berarti dapat dipercaya, setia, adil, dan tulus. Kejujuran dihargai di banyak budaya etnis dan agama

CARA AGAR BISA JUJUR

Agar bisa jujur, kita membutuhkan pedoman moral yang kuat. Tapi sayangnya, banyak orang lebih mementingkan penampilan luar daripada standar moral mereka. Hasilnya, mereka merasa boleh saja tidak jujur kalau situasinya cocok. Buku The (Honest) Truth About Dishonesty menulis, ”Sebenarnya kita tahu kita berbohong, tapi kita menganggap itu masih wajar dan merasa bahwa kita orang yang cukup jujur.

Kejujuran adalah kebijakan terbaik" adalah pepatah dari Benjamin Franklin

            Manfaat kejujuran :

1. Kejujuran mendatangkan kebahagiaan
2. Kejujuran mendatangkan simpati
3. Kejujuran mendatangkan ketenangan
4. Kejujuran mendatangkan pahala
5. Kejujuran mendatangkan rasa percaya diri
6. Kejujuran mendatangkan kedamaian
7. Kejujuran menciptakan keluarga yang nyaman
8. Menghindarkan seseorang dari tuduhan-tuduhan yang merugikan

E.   Kecurangan

Kecurangan atau curang Penggunaan tipu daya, muslihat, atau pemutarbalikan kebenaran secara sengaja.

Unsur-unsur dari kecurangan (keseluruhan unsur harus ada, jika ada yang tidak ada maka dianggap kecurangan tidak terjadi) adalah:
a.       Harus terdapat salah pernyataan (misrepresentation)
b.      dari suatu masa lampau (past) atau sekarang (present)
c.       fakta bersifat material (material fact)
d.      dilakukan secara sengaja atau tanpa perhitungan (make-knowingly or     recklessly)
e.       dengan maksud (intent) untuk menyebabkan suatu pihak beraksi.
f.       Pihak yang dirugikan harus beraksi (acted) terhadap salah pernyataan tersebut (misrepresentation)
g.       yang merugikannya (detriment).

Faktor-faktor perbuatan curang:

a.       Lemahnya iman
b.      Ketiadaan ikhlas dalam melakukan aktifitas
c.       Ambisi mengumpulkan pundi-pundi harta kekayaan dengan berbagai macam cara.
d.      Lemahnya pengawasan orang-orang yang berwenang untuk melakukan pengawasan terhadap orang-orang yang berada di bawah tanggungjawabnya.
e.       Tidak adanya kesungguhan.
f.       Berteman dengan orang-orang yang suka berbuat curang
g.       Lemahnya pendidikan yang ditanamkan sejak kecil di rumah atau di sekolah.
h.      Kurang percaya diri.
i.        Sikap bergantung kepada orang lain dan malas menerima tanggung jawab.
j.        Tidak adanya sistem hukum yang efektif untuk membuat jera para pelaku kecurangan.
.
Dampak negatif perbuatan curang :

a.       Orang yang melakukan kecurangan dan orang yang meridhainya akan mendapat dosa.
b.      Manusia akan membenci orang yang suka berbuat curang dan tidak mau bergaul dengannya.
c.       Perbuatan curang merupakan perbuatan khianat kepada umat dan sikap mensia-siakan amanah.
d.      Perbuatan curang termasuk salah satu sifat orang-orang munafik.
e.       Perbuatan curang akan menghilangkan keberkahan.
f.       Perbuatan curang akan melemahkan kepercayaan orang lain.
g.       Perbuatan curang akan menjadi faktor kegagalan masyarakat dalam semua bidang.
h.      Zalim kepada orang lain.
i.        Melemahkan pencapaian ilmu dan kemampuan
j.        Menciptakan permusuhan dan kebencian antar kaum.
k.      Mendapatkan harta haram dari cara-cara yang curang.
l.        Terjerumus pada sikap meremehkan pengawasan Tuhan

F.    Perhitungan (HISAB) dan Pembalasan

Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain, reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengadakan pembalasan. Bagi yang bertaqwa kepada Tuhan diberikan pembalasan dan bagi yang mengingkari pentah Tuhan pun diberikan pembalasan dan pembalasan yang diberikanpun pembalasan yang seimbang, yaitu siksaan dineraka.
Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang bersahabat. Sebaliknya, pergaulan yang penuh kecurigaan mennimbulkan balasan yang tidak bersahabat pula. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk moral dan sosial. Dalam bergaul, manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia berbuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar atau memperkosa hak dan kewajiban manusia lain.
Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa
perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, dan tingkah laku yang seimbang. Pembalasan Frontal dengan melakukan serangan langsung seperti kata-kata kasar bahkan perlawanan fisik Perhitungan di muka hukum dengan menaaati peraturan bersaing dimuka hukum antara yang dilaporkan dan pihak pelapor.

G.  Pemulihan Nama Baik

Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi orang/tetangga disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya.
Penjagaan nama baik erat hubunganya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau bisa dikatakan nama baik atau tidak baik itu adalah tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan itu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan – perbuatan yang dihalalkan agama dan lain sebagainya.

Tingkah laku atau perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada hakekatnya sesuai dengan kodratnya manusia, yaitu:
a.       Manusia menurut sifat dasarnya adalah makhluk moral.
b.      Ada aturan-aturan yang berdiri sendiri yang harus dipatuhi manusia untuk mewujudkan dirinya sendiri sebagai pelaku moral tersebut.


Pada hakekatnya, pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya; bahwa apa yang telah diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan akhlak. Oleh karena itu, tingkah laku dan perbuatan manusia harus disesuaikan dengan penciptanya sebagai manusia, untuk itu, orang harus bertingkah laku dan berbuat sesuai dengan ahlak yang baik.

Manusia dan Penderitaan

Manusia dan penderitaan

A.   Pengertian Penderitaan

Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Jadi Penderitaan merupakan menanggung sesuatu yang tidak meyenangkan. Penderitaaan dapat muncul secara lahiriah, batiniah atau lahir-batin.
Penderitaan akan dialami oleh semua orang, hal itu sudah merupakan "risiko" hidup. Tuhan memberikan kesenangan atau kebahagiaan kepada umatnya, tetapi juga memberikan penderitaan atau kesedihan agar manusia sadar dan tidak memalingkan dari-Nya. Dan penederitaan yang dialami seseorang harusnya menjadi bahan intropeksi dirinya untuk senantiasa menyadi hal hal yang ia lakukan.

B.   Siksaan

Siksaan merupakan bentuk dari penderitaan yang terjadi secara fisik atau jasmani dan juga rohani. Siksaan atau penyiksaan ( torture) digunakan untuk merujuk pada penciptaan rasa sakit untuk menghancurkan kekerasan hati korban. Segala tindakan yang menyebabkan penderitaan, baik secara fisik maupun psikologis, yang dengan sengaja dilakukkan terhadap seseorang dengan tujuan intimidasi, balas dendam, hukuman, pemaksaan informasi, atau mendapatkan pengakuan palsu untuk propaganda atau tujuan politik dapat disebut sebagai penyiksaan. Siksaan tidak memeberi dampak baik terhadap korban bahkan mampu merusak jasmani dan mental yang akan membuat dirinya merasa makin lemah. siksaan hanya akan menimbulkan rasa dendam dari diri korban terhadap pelaku. Namun era saat ini penyiksaan bukan lagi soal fisik namun psikis yang disiksa secara halus tidak ada kontak fisik sedikitpun yang pada akhirnya menimbulkan rasa ketakutan yang berlebih yang lambat laun akan mengganggu kondisi kejiwaan mereka, yang merupakan salah satu penyebab orang pada khirnya memutuskan untuk bunuh diri.\

C.   Kekalutan mental

kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang wajar.
Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental :
a.       Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna
b.      terjadinya konflik sosial budaya
c.       cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial
Beberapa gejala depresi lain yang juga berkontribusi bagi kekalutan mental antara lain:
1.      Kurang berenergi
2.      Letih
3.      Sulit berkonsentrasi
4.      Perhatian menurun
5.      Isolasi

Namun jika kita sudah mengalami kekalutan mental yang harus kta lakukan :
a.       Menjaga kesehatan mental
b.      Mengenal hal dala hidup yang tidak dapat terkendali.
c.       Perhatikan perasaan, kekhawatiran, dan reaksi Anda lalu ceritakan kepada orang lain.
d.      Bersikap luwes dan berekspektasi
e.       Belajar untuk bilang “tidak”
f.       Lakukan hal yang anda sukai
g.       Tertawalah
h.      Pikirkan hal yang anda dapat syukuri
i.        Lakukan hal yanda sukai

D.   Penderitaan dan Perjuangan

Penderitaan akan selalu ada dalam menjalani hidup ini namun bukan berarti kita harus terus menerus mensikmati atau hanya berdiam diri menghadapi penderitaan yang kita alami, kita harus mencari solusi mencari cara untuk melepaskan penderitaan itu. Maka dari itu harus ada perjuangan dalam menghadapi penderitaan agar kita mampu mengatasi segala sesuatu yang terjadi. Karena dalam hidup tuhan senantiasa menguji umat umatnya. Manusia diciptakan untuk menjalani skenario tuhan jika dikaitkan dengan agama namun jika kita berpikir secara logika segala sesuatu yang kita bperbuat berdampak pada diri kita sendiri akhirnya.
Contohnya, jika seseorang di vonis sakit kanker payudara oleh seorang dokter, yang ia lakukan tidak boleh berdiam diri dan mnyesali dirinya atas penderitaan yang ia alami namun sebaliknya ia harus teteap semangat, mencari pengobatan yang disaranakan dokter, terus berdoa kepada tuhan, bergabung bersama yayasan yang memiliki pasien yang sama. Agar ia mampu tegar dalam emnghadap pendertiaannya, bentuk diatas solusi ditas merupakan bentuk perjuangan yang mustinya ia lakukan. Karena jika ia hanya berdiam diri hanya akan melemahkan dirinya.

E.   Penderitaan, Media massa, dan Seniman

Dalam zaman serba modern sekarang ini kemungkinan terjadi penderitaan itu lebih besar. Hal ini telah dibuktikan oleh kemajuan teknologi dan sebagainya mensejahterakan manusia dan senjata, peluru kendali, pabrik bahan kimia merupakan sumber peluang terjadinya penderitaan manusia.
Hal ini sudah terjadi seperti
a.        bom atom di Hirosima dan Nagasaki,
b.       kebocoran reactor nuklir di Uni Soviet ,
c.        kebocoran gas beracun di India,
d.       penggunaan peluru kendali dalam perang Irak
e.       Fukushima terjadi ledakan reactor nuklir yang menyebabkan radiasi nuklir yang membahayakan kesehatan manusia,akibatnya masyarakat sekitar yang tinggal di daerah tersebut harus di ungsikan ke tempat yang jauh dari daerah terkena radiasi.

Beberapa sebab lain yang menimbulkan penderitaan manusia ialah, kecelakaan, bencana alam, bencana perang dal lain – lain. Contoh tenggelamnya kapal tampomas dua diperairan masalembo, jatuhnya pesawat Hercules yang mengangkut para perwira muda di Condet, meletusnya gunung galunggung dan perak irak dan iran.

Berita mengenai penderitaan silih berganti mengisi lembaran Koran, berita di televisi, radio, dengan maksud supaya orang yang yang menyaksikan ikut merasakan dari jauh penderitaan manusia. Nyatanya tidak sedikit bantuan yang datang dari dermawan dan sukarelawan berupa material dan tenaga untuk meringankan dan menyelamatkan mereka dari musibah ini. Media massa adalah salah satu alat yang paling tepat untuk mengkomunikasikan peristiwa – peristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada masyarakat.
Dengan demikian masyarakat dapat segera menilai untuk menentukan sikap antara sesama manusia terutama bagi yang merasa simpati. Tetapi tidak kalah pentingnya komunikasi yang dilakukan para seniman melalui karya seni, sehingga para pembaca, penontonnya dapat menghayati penderitaan sekaligus keindahan karya seni.

F.    Penderitaan dan Sebab – Sebabnya

            Sebab-sebab timbulnya penderitaan manusia :

A.     Penderitaan yang timbul kaerena perbuatan buruk manusia
Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Penderitaan ini kadang disebut nasib buruk.
Karena perbuatan buruk antara sesama manusia maka manusia lain menjadi menderita mislalnya : suami yang menyiksa istrinya (KDRT)
Perbuatan buruk manusia terhadap lingkuangan juga menyebabkan penderitaan manusia, misalnya : musibah tsunami di Aceh

B.     Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan / azab tuhan
Penderitaan manusia dapat juga terjadi akibat penyakit atau siksaan / azab tuhan. Namun kesabaran, tawakal dan optimisme dapat merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan itu.

G.  Pengaruh Penderitaan

a.        Pengaruh Negatif
Orang yang mengalami penderitaan mungkin memperoleh pengaruh bermacam- macam sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap negatif, misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, atau ingin bunuh diri.
b.       Pengaruh Positif
Orang yang mengalami penderitaan mungkin juga akan memperoleh sikap positif dalam dirinya. Sikap positif adalah sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan hanya rangkaian penderitaan, melaikan juga perjuangan membebaskan diri dari penderitaan. Penderitaan juga bisa menjadi introspeksi diri.

Cara mengatasi penderitaan
1. memulai sesuatu hal dengan hal yang baik
2. lebih mendekatkan diri pada Tuhan.

3. jalani hidup dengan optimis

Dessy's Graduation